Rabu, 18 Februari 2015

Laporan Bacaan Buku "Orang-orang Proyek"

I.     Identitas Buku
Novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari adalah novel yang sudah tidak asing bagi penggemar karya sastra Indonesia. Novel ini pertama kali diterbitkan oleh penerbit Jendela pada Juli 2002 di Yogyakarta. Novel yang memiliki tebal 228 halaman ini dicetak di kertas hvs dengan ukuran 12x18cm.
Cover novel Orang-orang Proyek dominan berwarna putih dengan gambar di sisi bawah novel seperti ranting pohon yang kaku berjejer di dalam tebing berwarna abu-abu yang juga kaku, meninggi dari kanan ke kiri. Gambar lelaki memakai jas dan dasi kupu-kupu hitam serta berjas ungu sedang berdiri dan merentangkan tangan berada di sisi kiri cover.
II.  Sinopsis
Kabul adalah seorang insinyur teknik sipil yang bekerja menjadi kepala pelaksana pembangunan jembatan yang bernilai ratusan juta bahkan sampai milyaran. Kabul bekerja di sebuah desa yang masih kental suasana alamnya. Baginya, proyek tersebut merupakan pekerjaan dan beban psikologis karena jembatan yang dia bangun harus bermutu tinggi agar tidak mudah rusak. Jika hanya bertahan satu atau dua tahun, akan ada gunjingan oleh masyarakat sekitar bahwa orang proyek suka memanipulasi dana sehingga mutu bangunan jelek dan ujung-ujungnya membebani rakyat kecil. Pribadi Kabul bukanlah orang yang seperti itu, dia selalu memegang prinsip yang diajarkan Biungnya sejak kecil, yaitu apa anane, apa mesthine, apa benere.
Semua prinsip yang Kabul pertahankan sangat bertentangan dengan kenyataan di lapangan proyek. Anggaran dari dana luar negeri telah 30-40 persen masuk kantong pejabat sebelum sampai di lapangan. Dana sisa yang sekarang dipakai untuk proyek tidak mencukupi, semua pasir dan batu yang dipakai bermutu jelek. Terbesit di benak Kabul untuk mundur dari proyek, tetapi Kabul masih bimbang karena gaji yang diterimanya masih dipakai untuk biaya kuliah kedua adiknya yaitu Samad dan Aminah, juga untuk membantu Biyungnya.
Kabul bertemu teman sesama aktivis kampus bernama Basar yang menjadi Kades tempat proyek Kabul berjalan. Suatu hari rumah Basar didatangi tamu dari partai Golongan Lestari Menang yang berkuasa pada orde baru masa itu. Tamu Basar tersebut menyampaikan pesan bahwa HUT GLM akan diadakan di desa tersebut sekalian peresmian jembatan baru yang sedang diselesaikan oleh Kabul. Tamu tersebut meminta Basar untuk meminjam kuli proyek untuk mendirikan tenda dan mengaspal jalan desa yang masih berupa tanah. Tentu saja partai GLM tidak mau menanggung biaya untuk mendirikan tenda dan mengaspal jalan, mereka berkata bahwa lebih baik dananya dari proyek pembangunan jembatan tersebut.
Basar yang memiliki idealisme sama seperti Kabul sempat berontak tetapi hanya dalam hati dan pikiran. Beberapa hari setelah kejadian itu, Basar mendatangi proyek Kabul bersama seseorang yang memakai jaket GLM bernama Baldun. Tujuan Baldun datang ke proyek untuk meminta bantuan Kabul dan kuli proyek untuk merenovasi masjid mulai dari bantuan dana, material dan tenaga. Kabul menolak permintaan itu, tetapi Baldun menjelaskan bahwa seusai melaksanakan upacara HUT GLM, Wapres dan Ketua Umum partai akan shalat Jumat di masjid, sehingga masjid harus segera dirombak. Bahkan Insinyur Dalkijo, manajer proyek jembatan yang juga berperan sebagai bendaharawan GLM sudah menyetujui renovasi tersebut. Kabul tetap menolak sehingga membut Baldun geram dan meninggalkan proyek.
Kabul semakin tidak betah berada di proyek tersebut. Pasir yang digunakan benar-benar pasir dengan kualitas paling buruk dan banyak campurannya. Beton yang dipesan retak-retak dan Dalkijo tidak menggubris perkataan Kabul untuk membeli yang baru. Besi yang digunakan juga berasal dari besi bekas proyek Pantura yang sudah tidak layak pakai. Dalkijo tetap bersikeras memakai material tersebut, sehingga Kabul memutuskan untuk berhenti dari proyek tersebut. Kabul yang mengutarakan niatnya pada Dalkijo membuat suasana menjadi tegang, Dalkijo mengancam kabul kemudian keluar dari area proyek dengan wajah seperti terbakar.
Satu tahun setelah jembatan diresmikan, Kabul berniat ingin melihat keadaan jembatan dan benar saja apa yang diramalkan Kabul. Tepat di depan jembatan tertulis bahwa jembatan rusak. Kabul memeriksa jembatan tersebut dan mendapati jembatan itu lantainya sudah jebol, tetapi kerangka jembatan yang dikerjakan Kabul masih kokoh. Rasa sakit menusuk dada Kabul, di dalam hati Kabul berpikir ada berapa ribu proyek yang senasib dan hanya menghabiskan uang rakyat.
III.    Tanggapan
Novel ini membuat pembaca kritis tentang kecurangan-kecurangan yang terjadi pada proyek di seluruh Indonesia. Selain itu juga ada nilai agama pada novel tersebut saat tokoh utama tak pernah lalai menjalankan ibadah dan juga menceritakan kepercayaan penduduk setempat dengan hal yang magis.
Kekurangan novel ini adalah latar tempat yang sebagian besar di area proyek dan terkesan monoton hanya di situ-situ saja. Tetapi, secara keseluruhan isi novel tersebut sangat menarik untuk dibaca dan membuat pembaca penasaran bagaimana akhir cerita tersebut.
IV.    Rekomendasi

Novel Orang-orang Proyek sangat menarik untuk dibaca, isi novelnya tidak mengumbar kekerasan dan kata-kata yang tidak pantas. Oleh karena itu, novel ini layak dibaca untuk semua umur.

Laporan Bacaan Buku "Penembak Misterius"

Laporan Bacaan Buku “Penembak Misterius”




I.       Identitas Buku
Kumpulan cerpen yang berjudul Penembak Misterius adalah salah satu karya sastra yang dihasilkan oleh Seno Gumira Ajidarma. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh penerbit Grafiti pada tahun 1993. Buku yang saya baca adalah cetakan kelima yang diterbitkan oleh penerbit Galang Press Anggota IKAPI pada tahun 2007. Buku ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 2002 yang juga dicetak dan diterbitkan oleh Galang Press dengan judul ‘The Mysterious Marksman’. Buku ini memiliki tebal 214 halaman dan dicetak di kertas hvs dengan ukuran 13x20cm.
Buku ini berisi 15 cerita pendek yang dibagi menjadi tiga bab utama yaitu: Penembak Misterius: Trilogi, Cerita untuk Alina dan Bayi Siapa Menangis di Semak-semak?. Sampul buku ini mengalami perubahan sebanyak tiga kali. Buku tersebut berlatar belakang hitam dengan tulisan judul buku dan gambar ikhtisar mayat dengan tanda ‘x’ di kepalanya berwarna putih. Terdapat garis polisi yang memanjang dari sampul depan ke sampul belakang berwarna kuning yang bertuliskan nama pengarang. Gambar pada sampul tersebut menunjukkan bahwa pada suatu tempat telah terjadi pembunuhan.
II.    Sinopsis
Keroncong pembunuhan bercerita tentang seorang pembunuh bayaran yang dikontrak wanita muda untuk membunuh seorang pengkhianat bangsa dan negara. Pembunuh tersebut dikisahkan berdarah dingin dan tidak pernah gagal menjalankan tugas. Pada suatu malam ada perasaan aneh saat teleskop senjatanya mengarah ke wajah orang yang disebut pengkhianat itu. Sang pembunuh sangsi karena wajah yang menjadi targetnya terlihat sangat baik, tenang, dan bukan wajah seorang pengkhianat. Dia mulai berpikir pada keluarga yang akan ditinggalkan oleh orang tersebut. Saat siap menembak, sang pembunuh malah membidik wanita yang menyuruhnya. Wanita tersebut di pojokkan untuk meyakinkan bahwa targetnya bukan orang yang keliru. Wanita muda tidak memberikan penjelasan dan hanya bilang bahwa ia disuruh oleh lelaki tua berkacamata. Sang pembunuh lalu mengarahkan senapannya pada laki-laki berkacamata tersebut, seorang lelaki tua yang sedang bercerita dengan berapi-api, tangannya bergerak kesana kemari, wajahnya licik dan penuh tipu daya. Penulis membiarkan ceritanya menggantung dan tidak menjelaskan siapa akhirnya yang akan ditembak.
Bunyi Hujan di Atas Genting menceritakan tentang Sawitri, seorang pelacur yang selalu dilanda kecemasan setiap kali mendengar bunyi hujan menitik di atas genting. Sebab, ketika hujan mereda, di ujung gang persis di halaman rumahnya selalu tergeletak mayat-mayat bertato. Mayat tersebut ada yang tangannya saja yang diikat dengan tali kawat, ada yang tangan dan kakinya diikat menjadi satu, dan ada yang tidak diikat sama sekali. Semua mayat pasti memiliki bekas peluru, kebanyakan bekas lubang peluru tersebut merusak tato yang ada di kulit mereka. Sawitri selalu takut bahwa mayat tersebut adalah Pamuji, pacarnya, sebab Pamuji juga bertato. Sawitri sering melongok melalui jendela rumahnya, atau berlari dan menyeruak kerumunan tetangga yang melihat untuk memastikan apakah diantara mayat-mayat tersebut terdapat mayat Pamuji. Sawitri selalu merasa cemas sedangkan tetangganya semua bersorak gembira.
Cerita Grhhh! Bercerita tentang Reserse Sarman yang berusaha menumpas zombi yang muncul di setiap sudut kota. Zombi (mayat hidup) tersebut sangat menjijikkan dan menimbulkan kekacauan. Ulat-ulat yang menggeliat keluar dari tubuh zombi tersebut lewat lubang yang mirip lubang peluru di sekujur tubuhnya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk membasmi zombi-zombi tersebut, tetapi semakin hari semakin banyak zombi yang bermunculan. Ternyata zombi-zombi tersebut adalah korban petrus (penembakan misterius). Hal ini disadari sarman setelah kantornya digedor oleh zombi yang ciri fisiknya mirip Ngadul. Ngadul adalah seorang penjahat yang telah insyaf. Keberadaan Ngadul bersama kurang lebih enam ribu penjahat lainnya hilang secara misterius, yakni karena pembantaian di daerah Lubang Besar. Menyadari bahwa pembantaian tersebut adalah sebuah kesalahan besar, Reserse Sarman melapor kepada komandannya bahwa cara untuk membasmi zombi-zombi tersebut hanya dengan menshalatkan para preman yang mati tanpa dishalatkan tersebut. Komandannya menganggap ide Sarman gila. Sarman tidak sempat mempertahankan idenya karena dia sudah diserbu zombi yang terus meneriakkan “Grhhh!!! Dhendham! Dhendham Khesumath!”.

III.  Tanggapan
Cerita-cerita karya Seno Gumira Ajidarma selalu menarik untuk dibaca karena mengisahkan sebuah kejadian di masyarakat dengan sisipan nilai sosial dan hak asasi manusia yang sangat kental. Cerita ini mengingatkan masyarakat tentang kegiatan pemusnahan tersembunyi pada masa orde baru yang melanggar hak asasi manusia pada bagian Penembak Misterius: Trilogi.
Sedangkan dua bagian lain kumpulan cerpen ini seluruhnya berisi kritik pada kebijakan pemerintah orde baru tentang pemusnahan becak-becak yang kemudian dibuang ke laut pada cerita Becak Terakhir di Dunia. Tentang masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat, bagaimana seseorang yang butuh perjuangan demi sesuap nasi, permainan tradisional digantikan oleh permainan dari luar negeri yang merajalela. Serta masyarakat jaman sekarang yang merasa gengsi jika tidak memiliki barang yang sedang booming di Indonesia.
Kelemahan dari kumpulan cerpen tersebut adalah pada akhir setiap cerita sebagian besar selalu menggantung dan membuat pembaca penasaran apa yang akan terjadi atau kelanjutan cerita-cerita tersebut.
IV.  Rekomendasi
Kumpulan cerpen Penembak Misterius sangat menarik dan layak dibaca, isi cerita sangat menggugah hati dan pikiran pembaca sehingga sangat sayang jika dilewatkan. Buku ini dikhususkan untuk pembaca yang sudah dewasa karena terdapat kata-kata yang belum saatnya dibaca untuk anak-anak. Untuk yang senang membaca karya sastra, kumpulan cerpen ini wajib untuk dibaca.

Minggu, 07 Desember 2014

Masuk Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia itu Keren

Jurusan bahasa khususnya PBSI (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) terkadang dianggap sebelah mata oleh masyarakat, banyak orang berkata jika kuliah dijurusan bahasa dan sastra mudah masuknya, mudah juga pelajarannya. Padahal semua itu tidak benar, banyak calon mahasiswa baru yang berusaha keras agar dapat masuk program studi ini. Mulai dari SNMPTN, SBMPTN, SM Prestasi, SM Utul, bahkan mereka rela menunggu satu tahun kemudian jika tidak lulus pada jalur-jalur masuk tersebut. Masyarakat juga menganggap bahwa jurusan PBSI tidak seperti jurusan lain yang mempunyai kesempatan besar keluar negeri untuk mengikuti program pertukaran pelajar ataupun melanjutkan studi. Kenyataannya tidak hanya program studi lain saja yang bisa keluar negeri, mahasiswa PBSI pun bisa keluar negeri untuk mengajar disana atau melanjutkan studinya. Banyak naskah-naskah klasik dari Indonesia yang tersimpan di negara-negara luar dan seharusnya dikuak untuk kepentingan kekayaan budaya Indonesia yang hanya dapat dilakukan oleh ahli bahasa dan sastra, khususnya Bahasa Indonesia. Bahkan banyak warga negara asing yang mencintai Bahasa Indonesia dan rela datang ke Indonesia demi memperdalam kemampuan Bahasa Indonesia-nya di perguruan tinggi. Sebagai contoh negara Australia, Bahasa Indonesia sebagai pelajaran ekstra pilihan di sekolah-sekolah, yang mengejutkan adalah pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah warga negara asing, bukan WNI. Sedangkan di Indonesia, rakyatnya malah berlomba-lomba untuk mempelajari bahasa asing dan Bahasa Indonesia dianggap remeh. Bayangkan, sangat menyedihkan mendapati kenyataan bahwa rakyatnya saja tidak mencintai bahasa negaranya sendiri.
            Banyak alasan kenapa saya memilih PBSI. Salah satunya karena saya menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Sejak kelas V SD saya selalu menanti pelajaran tersebut, sebab banyak cerita baik dongeng ataupun cerpen yang diberikan guru saat itu. SMP dan SMA pengetahuan tentang bahasa semakin bertambah dan saya merasa pelajaran bahasa sangat menyenangkan. Selain itu saudara saya yang juga mengambil jurusan PBSI bercerita bahwa mata kuliah yang dia jalani sangat menyenangkan dan tidak membosankan. Saudara saya juga bercerita jika mempelajari seluk beluk bahasa seperti Fonologi, Morfologi, Sintaksis dan Semantik, serta mempelajari Prosa, Drama, Sastra Klasik, dan karya sastra lainnya itu tidak ada bosannya. Alasan selanjutnya karena guru saya berkata kalau saya pandai jika dalam hal pelajaran bahasa. Waktu penjurusan dari kelas X ke kelas XI memang saya berniat masuk ke jurusan Bahasa, tetapi saat itu sekolah hanya membuka dua jurusan yaitu IPA dan IPS. Ayah saya menasehati sebelum saya mendaftar melalui jalur-jalur masuk. Ayah saya mengakatan bahwa wanita itu cocoknya menjadi guru karena jika sudah berkeluarga besok anak-anaknya dapat terurus dengan baik, tidak seperti wanita lain  yang memilih sebagai pebisnis atau karyawati kantor yang notabene sibuk dengan urusan-urusan.

            Prospek lulusan PBSI sangat banyak yang paling utama adalah menjadi guru dan dosen. Ribuan alumni PBSI juga banyak bekerja dalam bidang pekerjaan/profesi lain yang masih relevan, seperti menjadi jurnalis/wartawan, praktisi bahasa, penulis, editor, peneliti, perbankan, wirausaha, sastrawan, reporter, pembawa acara dan masih banyak lagi pekerjaan yang membutuhkan lulusan Bahasa Indonesia. Maka dari itu, ayo cintai bahasa dan sastra negeri sendiri: Indonesia.

Jumat, 17 Mei 2013

Suaka Margasatwa (Tujuan, Manfaat, Kriteria dan Contohnya)


1.      Suaka Margasatwa
adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ekosistem asli dan ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.
a.       Tujuan dibangun Cagar alam
melindungi dan melestarikan kelangsungan hidup satwa tertentu agar tidak punah.
b.      Manfaat dan fungsi suaka margasatwa
untuk penelitian, ilmu pengetahuan,pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
c.       Kriteria kawasan suaka margasatwa :
1)      merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya;
2)      merupakan habitat dari suatu jenis satwa langka dan atau dikhawatirkan akan punah;
3)      memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi;
4)      merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu; dan atau
5)      mempunyai luasan yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan.
d.      Suaka margasatwa yang berada di Indonesia
Sumatera
·         Balai Raja; Bengkalis
·         Barumun; Tapanuli Tengah
·         Bukit Batu; Bengkalis
·         Tasik Belat; Bengkalis
·         Bentayan; Banyuasin
·         Danau Pulau Besar–Bawah; Bengkalis
·         Tasik Besar–Metas; Indragiri Hilir
·         Dangku; Musi Banyuasin
·         Pusat Pelatihan Gajah; Bengkalis
·         Giam Siak Kecil; Bengkalis
·         Gumai Pasemah; Lahat
·         Isau-Isau Pasemah; Lahat
·         Karanggading-Langkat Timur Laut ; Langkat
·         Kerumutan; Kampar, Indragiri Hulu
·         Tasik Tanjung Padang; Bengkalis
·         Pagai Selatan; Pesisir Selatan (Kepulauan Mentawai)
·         Gunung Raya; Ogan Komering Ulu
·         Bukit Rimbang-Baling; Kampar
·         Tasik Serkap-Sarang Burung; Indragiri Hilir, Pelalawan
·         Rawa Singkil; Aceh Selatan
·         Siranggas; Tapanuli Tengah
·         Padang Sugihan; Musi Banyuasin
·         Dolok Surungan; Tapanuli Utara
Jawa
·         Muara Angke; Jakarta Utara
·         Bawean; Surabaya
·         Cikepuh; Sukabumi
·         Paliyan; Gunung Kidul
·         Pulau Rambut; Jakarta Utara
·         Gunung Sawal; Ciamis
·         Sendangkerta; Tasikmalaya
·         Gunung Tunggangan; Sragen
·         Dataran Tinggi Yang; Jember
Kalimantan
·         Pulau Kaget; Barito Kuala
·         Lamandau; Kotawaringin Barat
·         Kuala Lupak-Nusa Gede Panjalu; Barito Kuala
·         Pleihari-Tanah Laut; Tanah Laut
·         Pulau Semama; Berau

Nusa Tenggara
·         Ale Asisio; Timor Tengah Selatan
·         Harlu; Kupang
·         Kateri; Belu
·         Tamboran Selatan; Dompu
·         Danau Tuadale; Kupang

Sulawesi
·         Tanjung AMOLENGO; Kendari
·         Bakiriang; Banggai
·         Tanjung BATIKOLO; Kendari
·         Buton Utara; Muna
·         Dolangan; Buol Toli-Toli
·         Karakelang Utara-Selatan; Sangihe Talaud
·         Komara; Takalar
·         Lambusango; Buton
·         Lampoko-Mampie; Polewali Mandar
·         Lombuyan I/II; Banggai
·         Gunung Manembo-Nembo; Minahasa
·         Tanjung Matop-Pinjam; Buol Toli-toli
·         Nantu; Gorontalo, Nantu
·         Pati-Pati; Banggai
·         Peropa; Kendari
·         Santigi; Donggala
Maluku dan Papua
·         Angromeos; Paniai
·         Pulau Venu; Fakfak
·         Tanimbar; Maluku Tenggara
·         Pulau Baun; Maluku Tenggara
·         Pulau Dolok; Merauke
·         Foja; Jayapura
·         Jamursba Medi; Manokwari
·         Jaya Wijaya; Jayawijaya
·         Pulau Kassa; Maluku Tengah
·         Pulau Kobror; Maluku Tenggara
·         Komolon; Merauke
·         Pulau Manuk; Maluku Tengah
·         Tanjung Mubrani-Sidei-Wibain I/II; Manokwari
·         Kepulauan Raja Ampat; Fakfak
·         Sabuda Tataruga; Fakfak

Daftar Cagar Alam di Indonesia

Sumatera Utara
·         Cagar Alam Batu Gajah, Simalungun
·         Cagar Alam Batu Ginurit, Labuhan Batu
·         Cagar Alam Liang Balik, Labuhan Batu
·         Cagar Alam Lubuk Raya, Tapanuli Selatan
·         Cagar Alam Martelu Purba, Langkat
·         Cagar Alam Dolok Saut-Surungan, Tapanuli Utara
·         Cagar Alam Sei Ledong, Labuhan Batu
·         Cagar Alam Sibolangit, Sibolangit
·         Cagar Alam Dolok Sibual-Buali, Tapanuli Selatan
·         Cagar Alam Dolok Sipirok, Tapanuli Selatan
Cagar Alam Dolok Tinggi Raja, Simalungun

Sumatera Barat
·         Cagar Alam Air Putih, Lima Puluh Koto
·         Cagar Alam Air Terusan, Pesisir Selatan, Solok
·         Cagar Alam Lembah Anai, Tanah Datar
·         Cagar Alam Arau Hilir, Pasaman
·         Cagar Alam Barisan I, Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok, Kota Padang
·         Cagar Alam Batang Palupuh, Agam
·         Cagar Alam Beringin Sati, Tanah Datar
·         Cagar Alam Lembah Harau, Lima Puluh Koto
·         Cagar Alam Malampah Alahan Panjang, Lima Puluh Koto, Pasaman
·         Cagar Alam Maninjau Utara-Selatan, Agam, Pariaman
·         Cagar Alam Pangean I, Sawah Lunto, Sijunjung, Solok
·         Cagar Alam Pangean II, Sawah Lunto, Sijunjung, Solok
·         Cagar Alam Rimbo Panti, Pasaman
·         Cagar Alam Gunung Sago, Tanah Datar, Lima Puluh Koto
·         Cagar Alam Gunung Singgalang Tandikat, Agam, Tanah Datar
Jambi
·         Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur, Tanjung Jabung
·         Cagar Alam Sungai Batara, Tanjung Jabung Barat
·         Cagar Alam Buluh Hitam, Bungo Tebo
·         Cagar Alam Cempaka, Bungo Tebo
·         Cagar Alam Durian Luncuk I, Sarolangun Bangko
·         Cagar Alam Durian Luncuk Ii, Batanghari
·         Cagar Alam Gua Ulu Tingko, Sarolangun Bangko
Sumatera Selatan
·         Cagar Alam Bungan Maskikim, Lahat
Bengkulu
·         Cagar Alam Air Alas, Bengkulu Selatan
·         Cagar Alam Air Rami I REG 87, Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Air Rami I REG 87A, Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Air Seblat, Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Sungai Bahelo, Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Cawang I/II, Rejang Lebong
·         Cagar Alam Despatah I/II, Rejang Lebong
·         Cagar Alam Dusun Besar, Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Kioyo I dan II, Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Klowe, Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Konak, Rejang Lebong
·         Cagar Alam Tanjung Laksaha, Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Manna, Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Danau Menghijau, Rejang Lebong
·         Cagar Alam Muko-Muko I
·         Cagar Alam Muko-Muko II REG 100, Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Pager Gunung I/II; Rejang Lebong
·         Cagar Alam Pager Gunung III/IV/V; Rejang Lebong
·         Cagar Alam Pasar Ngalam REG 92; Bengkulu Selatan
·         Cagar Alam Pasar Seluma REG 93; Bengkulu Selatan
·         Cagar Alam Pasar Telo REG 94; Bengkulu Selatan
·         Cagar Alam Taba Pananjung; Bengkulu Utara
·         Cagar Alam Talang Ulu; Rejang Lebong
·         Cagar Alam Danau Tes; Rejang Lebong
Kalimantan
·         Cagar Alam Mandor
·         Cagar Alam Gunung Palung
·         Cagar Alam Kota Waringin/Sampit (Tanjungputing)
·         Cagar Alam Padang Luwai
·         Cagar Alam Panua
Papua
·         Cagar Alam Gunung Lorentz
·         Cagar Alam Pegunungan Arfak, Jayapura
·         Cagar Alam Biak Utara, Biak
·         Cagar Alam Danau Bian, Merauke
·         Cagar Alam Bupul, Merauke
·         Cagar Alam Pegunungan Cyclops, Jayapura
·         Cagar Alam Enarotali, Nabire
·         Cagar Alam Nabire, Nabire
·         Cagar Alam Pulau Pombo, Merauke
·         Cagar Alam Pulau Supiori, Biak
·         Cagar Alam Tamrau Selatan, Nabire
·         Cagar Alam Pegunungan Wayland, Nabire
·         Cagar Alam Yapen Tengah, Kepulauan Yapen
Papua Barat
·         Cagar Alam Batanta Barat, Sorong
·         Cagar Alam Teluk Bintuni, Manokwari
·         Cagar Alam Pegunungan Fakfak, Fakfak
·         Cagar Alam Pulau Kofiau, Sorong
·         Cagar Alam Pegunungan Kumawa, Fakfak
·         Cagar Alam Misool Selatan, Sorong
·         Cagar Alam Salawati Utara, Sorong
·         Teluk Cagar Alam Laut Sansafor, Manokwari
·         Cagar Alam Tamrau Utara, Sorong
·         Cagar Alam Pulau Waigeo Barat, Sorong
·         Cagar Alam Pulau Waigeo Timur, Sorong
·         Cagar Alam Wondi Boy, Manokwari



Sulawesi
Lampung
·         Cagar Alam Laut Pulau Anak Krakatau, Lampung Selatan
Sumatera
·         Cagar alam Rimbopanti
·         Cagar alam Rafflesia
·         Cagar alam Gunung Krakatau
Aceh
·         Cagar alam Rafflesia Aceh-Serbojadi, Aceh Timur
·         Cagar alam Hutan Pinus Janthoi, Aceh Besar
Riau
·         Cagar Alam Pulau Berkey, Bengkalis
·         Cagar Alam Bukit Bungkuk, Kampar
Banten
·         Cagar Alam Rawa Danau, Serang
·         Cagar Alam Pulau Dua, Serang
·         Cagar Alam Laut Pulau Sangiang, Serang
·         Cagar Alam Tukung Gede, Serang
Jawa Tengah
·         Cagar Alam Bantar Bolang, Pemalang
·         Cagar Alam Bekutuk, Blora
·         Cagar Alam Gunung Butak, Rembang
·         Cagar Alam Cabak I/, Blora
·         Cagar Alam Gunung Celering, Jepara
·         Cagar Alam Curug Bengkawah, Pemalang
·         Cagar Alam Telogo Dringo, Banjarnegara
·         Cagar Alam Gunung Gebugan-Ungaran, Semarang
·         Cagar Alam Getas, Semarang
·         Cagar Alam Guci, Pemalang
·         Cagar Alam Karang Bolong, Cilacap
·         Cagar Alam Keling I/II/III, Jepara
·         Cagar Alam Kembang, Jepara
·         Cagar Alam Moga, Pemalang
·         Cagar Alam Nusakambangan, Pemalang dan Cilacap
·         Cagar Alam Pager Wunung Daruprono, Kendal
·         Cagar Alam Pantodomas, Wonosobo
·         Cagar Alam Peson Subah I, Batang
·         Cagar Alam Peson Subah II, Batang
·         Cagar Alam Pringombo I/II, Banjarnegara
·         Cagar Alam Telogo Ranjeng, Pemalang
·         Cagar Alam Sepakung, Semarang
·         Cagar Alam Subvak 18C/19B, Tegal
·         Cagar Alam Telaga Sumurup, Banjarnegara
·         Cagar Alam Ulo Lanang Kecubung, Batang
·         Cagar Alam Vak 53 Comal, Pemalang
      Jawa Timur
·         Cagar Alam Gunung Abang, Pasuruan
·         Cagar Alam Nusa Barong, Jember
·         Cagar Alam Besowo Gadungan, Kediri
·         Cagar Alam Pulau Bawean, Surabaya
·         Cagar Alam Ceding, Bondowoso
·         Cagar Alam Corah Manis Sempolan, Jember
·         Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Unggup-Unggup, Banyuwangi
·         Cagar Alam Janggangan Regojampi I/II, Banyuwangi
·         Cagar Alam Sungai Kolbu Iyang Plateu, Bondowoso
·         Cagar Alam Manggis Gadungan, Kediri
·         Cagar Alam Gua Nglirip, Bojonegoro
·         Cagar Alam Pacur Injen I/II, Bondowoso
·         Cagar Alam Gunung Picis, Ponorogo
·         Cagar Alam Saobi–Kangean, Sumenep (Madura)
·         Cagar Alam Pulau Sempu, Malang
·         Cagar Alam Gunung Sigogor, Ponorogo
·         Cagar Alam Watangan Puger I-VI, Jember
·         Cagar Alam Wijaya Kusuma, Cilacap
      Yogyakarta
·         Cagar Alam Teluk Baron, Gunung Kidul
      Jakarta
·         Cagar Alam Pulau Bokor, Jakarta Utara
      Bali
·         Cagar Alam Batukahu I/II/III, Tabanan
       Nusa Tenggara Timur
·         Cagar Alam Maubesi, Belu
·         Cagar Alam Gunung Mutis, Timor Tengah Selatan
·         Cagar Alam Perhalu, Kupang
·         Cagar Alam Tambora, Ende
·         Cagar Alam Watu Ata, Ngada
·         Cagar Alam Way Wuul/Mburak, Manggarai
·         Cagar Alam Wolo Tado, Ngede Nalo Merah, Siung; Ngada
      Nusa Tenggara Barat
·         Cagar Alam Pulau Panjang, Sumbawa
·         Cagar Alam Sangiang, Sumbawa
·         Cagar Alam Tambora Selatan, Dompu
·         Cagar Alam Tanah Pedauh, Sumbawa
·         Cagar Alam Tofo Kota Lambu, Sumbawa
      Maluku
·         Cagar Alam Pulau Angwarmase, Maluku Tenggara
·         Cagar Alam Gunung Api Kisar, Maluku Tengah
·         Cagar Alam Laut Kepulauan Aru Tenggara, Kepulauan Aru
·         Cagar Alam Laut Banda, Maluku Tenggara
·         Cagar Alam Bekau Huhun, Maluku Tenggara
·         Cagar Alam Daab, Maluku Tengara
·         Cagar Alam Pulau Larat, Maluku Tengara
·         Cagar Alam Masbait, Buru
·         Cagar Alam Pulau Nustaram, Maluku Tenggara
·         Cagar Alam Pulau Nuswotar, Maluku Tenggara
·         Cagar Alam Pulau Pombo, Maluku Tengah
·         Cagar Alam Gunung Sahuwai, Seram Bagian Barat
·         Cagar Alam Tafermaar, Maluku Tenggara Barat (Pulau Molu)
       Maluku Utara
·         Cagar Alam Lifamatola, Halmahera Tengah
·         Cagar Alam Pulau Obi, Halmahera Selatan
·         Cagar Alam Pulau Seho, Kepulauan Sula
·         Cagar Alam Gunung Sibela, Halmahera Selatan
·         Cagar Alam Taliabu, Kepulauan Sula